Agama Masa Depan

Posted: March 9, 2014 in Refleksi
Tags: , , , , , ,

Sebuah refleksi dari kunjungan ke Pura Parahyangan Jagat Guru di Nusa Loka

Minggu, 9 Februari 2014

Image

Pak Made, penggagas pendirian Pura Parahyangan Jagat Guru, begitu ramah menyambut saya dan teman-teman yang beragama Islam dan Katolik. Awalnya kami dipersilakan duduk di ruang tamu lantai satu untuk berdiskusi tentang agama Hindu tetapi karena saat itu sedang ada latihan musik, Pak Made mengajak kami untuk berdiskusi di sebuah ruangan di lantai dua. Ruangan tersebut adalah ruang kelas yang biasa digunakan untuk mengajar orang-orang yang ingin mempelajari agama Hindu sebelum masuk menjadi umat Hindu.

Dari sambutan hangat Pak Made kepada kami yang bukan beragama Hindu, saya merasa beliau merupakan orang yang hebat dan memiliki toleransi agama yang tinggi, tidak antipati terhadap agama lain melainkan mau menerima semua agama sebagai satu keluarga. Saya menyimpulkan bahwa orang yang pengetahuan agamanya luas justru tidak menolak atau takut terhadap diskusi agama dengan umat agama lain melainkan menyambut mereka semua seperti saudara. Berpegang pada poin plus umat Hindu (Pak Made) dari kesan pertama tadi, diskusi berjalan dengan sangat menyenangkan. Saya mengetahui lebih banyak hal tentang agama Hindu seperti alasan sapi menjadi hewan yang suci, upacara-upacara agama Hindu, tingkatan pendeta-pendeta Hindu, pantangan umat Hindu, budaya masyarakat Bali yang biasa disalahkaprahkan sebagai tradisi Hindu, dan lain-lain.

Selama proses diskusi, banyak sekali pengalaman berharga yang dapat saya jadikan refleksi terhadap iman dan ketuhanan. Pak Made memiliki cara yang unik dalam menjelaskan agama Hindu kepada kami. Ia banyak mengambil pendekatan dengan paham agama lain agar kami lebih mengerti agama Hindu. Misalnya, penjelasan tentang Trimurti (Brahma, Wisnu, dan Siwa) didekatkan dengan penjelasan mengenai Trinitas (Bapa, Putera, dan Roh Kudus); penjelasan tentang doa Tri Sandhya didekatkan dengan penjelasan tentang sholat lima waktu; dan sebagainya. Kata demi kata yang keluar selama proses diskusi sama sekali tidak mengandung unsur perdebatan mengenai agama mana yang paling benar melainkan mengerucut pada satu pernyataan bahwa dunia merupakan keluarga universal.

Mendalami bahwa dunia merupakan keluarga universal, Ketuhanan Yang Maha Esa pada sila pertama Pancasila tidak bisa kita tafsirkan sebagai Tuhan yang sesungguhnya hanya ada pada satu kepercayaan, melainkan semua kepercayaan mengarah pada satu Tuhan yang esa. Brahman, Yesus, Allah, semua hanyalah nama-nama yang digunakan dalam penyebutan terhadap suatu zat Mahakuasa, Mahaperkasa, dan Mahaagung yang diyakini oleh manusia. Pendapat bahwa dunia merupakan keluarga universal dapat diamini dengan mengambil tujuan utama yang dibawa oleh setiap kepercayaan, yaitu kebaikan, cinta, kasih sayang, dan kedamaian yang terangkum dalam satu asas kemanusiaan. Lalu, mengapa tidak dibuat saja satu ajaran yang mempersatukan semua agama dengan asas kemanusiaan? Jawabannya belum bisa karena setiap agama masih memiliki ego dalam mempertahankan tradisi mereka masing-masing. Kapan ajaran universal tersebut dapat dilaksanakan? Ketika semakin banyak orang yang muak dengan oknum-oknum yang memanfaatkan agama untuk tujuan sendiri (perang, uang, nama baik), oknum-oknum yang menganut chauvinisme agama (intoleran dan memandang rendah agama lain), dan semakin banyaknya oknum yang mengaku beragama hanya karena mengenakan atribut sebuah agama bukan karena tindakan-tindakan baiknya terhadap orang lain. Akan ada revolusi besar-besaran terhadap pandangan tentang agama apabila orang-orang berpikiran sempit masih berkutat pada ego mereka masing-masing. Ketakutan akan revolusi yang dapat meruntuhkan kepercayaan selama ribuan tahun tersebut seharusnya ditanggapi bukan dengan melarang atau memberikan label sesat pada mereka yang mulai memprakarsai gerakan itu. Tindakan yang demikian hanya akan menunjukkan eksistensi oknum yang berpikiran sempit dan memancing semakin banyak orang untuk muak dengan oknum-oknum seperti itu.

Bagi saya, sifat agama Hindu yang tidak memaksa orang untuk masuk dalam agama Hindu sangatlah menarik untuk menyongsong masa depan agama. Sifat toleransi, menghargai perbedaan, dan tidak menganggap satu agama sebagai satu-satunya jalan keselamatan sangat diperlukan dalam menjalani kehidupan yang penuh perbedaan. Saya memperoleh hal menarik dari kunjungan ini, yaitu sebagai seorang mahasiswa yang merupakan generasi penerus bangsa ini, saya tidak boleh berpikiran sempit terhadap satu kepercayaan tetapi harus menghargai dan melihat adanya kebenaran pada kepercayaan lain.

~@0zerwz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s